Pengembangan SIM Kampus

Pengembangan SIM Kampus
September 25, 2016 No Comments Education,MIS satya

SIM atau bahasa terkenalnya Management Information Systems (MIS) is the study of people, technology, and organizations.

Siapa yang menjadi People dalam organisasi pendidikan tinggi (Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, Universitas) ?,

Menurut penulis People disini dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu internal dan eksternal. Dimana yang menjadi bagian internal adalah Pimpinan, Karyawan, Dosen dan Mahasiswa sedangkan bagian eksternal adalah para orang-tua siswa, masyarakat umum, lembaga pemerintah maupun swasta.

Tata kelola organisasi pendidikan sangat berbeda dengan organisasi non pendidikan apalagi organisasi pendidikan formal seperti Diploma, Strata-1, Strata-2 dan Strata-3, salah satu komponen yang membedakan adalah kentalnya keterikatan dengan pihak eksternal dalam hal ini Pemerintah yang berklaitan dengan aturan main, regulasi dsb, sebagaimana tercantum dalam UU Sisdiknas tahun 2003, bab II tentang Dasar Fungsi dan Tujuan pasal 3 yang mengatakan :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Cukup menyeramkan jika dari lihat fungsi-nya karena organisasi lembaga pendidikan punya peran penting kemajuan sebuah bangsa (tul ngak sih ?).

Oleh sebab itu peranan sebuah SIM sangatlah penting untuk menunjang semua proses bisnis sehingga memiliki karakteristik dasar tentang sebuah sistem yaitu tingkat akurasi, kecepatan dan dapat dipertanggung-jawabkan, ending-nya adalah memuaskan semua People yang disebutkan di atas.

Kira-kira apa yang dijadikan indikator dalam pengembangan SIM pada sebuah organisasi pendidikan khususnya pendidikan tinggi ?

Jika mengingat masa-masa penulis sebagai konsultan melakukan pengembangan SIM sebuah kampus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta tahun 1992, pendekatannya All-System Approach + Extreme Programming, diskusi dengan internal dan hasil analisa bisnis. Pengembangan SIM ketika masa itu boleh dibilang punya kesulitan tersendiri salah satunya adalah studi banding tidak ada karena memang masa itu hanya beberapa kampus swasta saja yg sudah punya sistem sedangkan targetnya ingin menciptakan sistem terbaik dari semua perguruan tinggi swasta di Indonesia. Puji Tuhan kampus tersebut banyak dijadikan rujukan dan studi banding oleh kampus lain. Terbukti beberapa kampus di Jakarta dan diluar Jakarta penulis diminta sebagai konsultan seperti Ukrida, Esa Unggul, Itenas, Muria Kudus, STT-PLN,St.Carolus, Moestopo dll agar menerapkan sistem seperti Atmajaya. Jadi jangan kaget jikalau banyak output nyaris sama.

Bagaimana di era Millenium ?

Sedangkan pada era Millenium atau di atas tahun 2000-an dan era internet pengembangan SIM sudah sangat dimudahkan mulai dari mencari sistem rujukan untuk studi banding, sharing information yang kita dapatkan dari internet, mendapatkan SDM IT dengan skill baik sangat berlimpah hingga aturan/regulasi dari Pemerintah sudah semakin jelas.

Menurut penulis metodologi pengembangan SIM dengan skala Enterprise saat ini dapat menggunakan kerangka Zachman Framework, sedangkan teori untuk eksekusi kolom Data, Function, Network dapat menggunakan teori Enterprise Architecture Planning (EAP) yang dipopulerkan oleh Steven H. Spewak tahun 1992, karena kerangka dasar EAP cukup logis dalam membangun SIM Kampus yang memiliki cakupan proses bisnis yang besar dan kompleks.

EAP

Zachman Framework

Sedangkan yang menjadi indikator pendukung dalam pengembangan SIM Kampus adalah :

  1. Borang Akreditasi
  2. Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT)
  3. Peraturan/UU Bidang Pendidikan

Mengapa Borang Akreditasi ?

Akreditasi perguruan tinggi yang diterapkan dalam sistem pendidikan nasional dimaksudkan untuk menilai penyelenggaraan pendidikan tinggi. Penilaian itu diarahkan pada tujuan ganda, yaitu:

  1. menginformasikan kinerja perguruan tinggi kepada masyarakat
  2. mengemukakan langkah pembinaan yang perlu ditempuh terutama oleh perguruan tinggi dan pemerintah, serta partisipasi masyarakat.

Hasil akreditasi merupakan wujud mutu penyelenggaraan sebuah perguruan tinggi sehingga memiliki bisnis value yang sangat penting dalam menjaring calon mahasiswa.

Megapa PDPT ?

Flashback sebelum PDPT muncul dimana pada awal tahun 2002 terbit sebuah SK-034 yang mewajibkan penyelenggara pendidikan tinggi untuk memberikan laporan dalam bentuk data digital dalam program aplikasi yang disebut EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri). Melalui data-data tersebut pihak pemerintah dalam ini kopertis wilayah masing-masing dapat melakukan analisa terhadap data-data dari setiap PT yang terkumpul yang tentunya hasil analisa tersebut akan digunakan untuk berbagai kebijakan.

Sejak PDPT diperkenalkan menggantikan EPSBED secara terpusat oleh Ristek Dikti, komponen data yang harus diberikan semakin beragam yang bikin  operator PDPT garuk-garuk kepala. PDPT saat ini sudah dijadikan acuan pihak Pemerintah dalam menentukan berbagai kebijakan baik sekarang mapun rencana yang akan datang.

Mengapa UU Sisdiknas ?

Bunyinya saja sudah Undang-Undang dipastikan isinya ya aturan yang tidak boleh dilanggar ?, aturan tersebut harus disesuaikan dengan sistem yang dimiliki.

Untuk sementara saya akhiri, semoga berguna artikel ini.

 

Tags
About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *