Langkah Sukses Membangun Brand Dalam Era Digital

Langkah Sukses Membangun Brand Dalam Era Digital
May 3, 2017 No Comments Blog,Internet Marketing,Social Media satya
Brand

Tepatnya tanggal 26 April 2017, saya mengikuti sebuah gathering tentang Brand di Jakarta Selatan yang diselenggaran oleh DigitalMarketer.id atau dikenal dengan DM Lab milik suhu Marketer Indonesia yaitu Mr Denny Santoso. Acara sendiri dikemas cukup santai disebuah Cafe dan yang menjadi pembicara adalah Mr Erwin Panigoro, pemerhati & praktisi ‘Brand Management’, beliau juga sebagai dosen Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Komunikasi.

Sukses Brand Denny Santoso-Erwin-Panigoro

Sukses Brand Denny Santoso Erwin Panigoro

Saya mencoba me-review dari hasil dari gathering tersebut serta hasil membaca berbagai informasi seputar Brand agar sukses di era digital.

Kevin Lane Keller

Kevin Lane Keller

Menurut Kevin Lane Keller, E. B. Osborn Professor of Marketing at the Tuck School of Business at Dartmouth College :

A brand is a name, term, sign, symbol, or design which is intended to identify the goods or services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitors.

A brand is a product that add other dimensions that differentiates it in some way from other products designed to satisfy the same needs.

  • Brand itu bukan sekedar logo,
  • Brand itu bukan sekedar merek.
  • Brand itu bukan sekedar iklan
  • Brand itu bukan sekedar slogan
  • Brand itu bukan sekedar paket
  • Brand itu bukan sekedar promosi
  • Brand itu bukan sekedar hadiah

 

Brand itu lebih kepada membangun ikatan emosi yang menghubungkan sesuatu produk dengan konsumen, dan itu bergantung seberapa besar anda menciptakan nilai yang konstektual pada brand tersebut.
Image atas Brand

Image atas Brand

Apa yang membedakan Kopi yang Biasa seharga Rp. 8rb dengan Kopi yang sudah dibranding seharga Rp. 48rb ?

Selisih Rp. 40rb adalah untuk membayar Prestige dan Lifestyle. Itulah Jika Brand sudah dibangun akan memberikan manfaat Emosional dan Kepuasan Batin pada Konsumen.

Prestige dan Lifestyle merupakan bagian dari Brand.

Dari contoh kasus ini jelas bahwa brand juga dapat meningkatkan nilai ekuitas, contoh lainnya adalah pada tahun 2008 PT Philip Morris membeli PT HM Sampoerna seharga US $ 4 Milliar, padahal nilai asetnya hanya berkisar US $ 1 Milliar. Keputusan membeli dengan nilai 4x lipat karena disadari bawah strategi membangun merek baru sangat membutuhkan biaya besar dan belum tentu berhasil, PT HM Sampoerna sudah membuktikan sebagai pemain lama dalam industri rokok dengan brand/merek sangat sukses.

 

 

Proses membangun brand itu sendiri bagi para ahli adalah proses yang sakral, jika berhasil maka memudahkan untuk jalan ke surga dan jika gagal akan terjun langsung ke neraka, istilah ini cukup dikenal sebagai  ‘Brand Heaven Brand Hell‘.

Sukses Membangun Brand

Sukses Membangun Brand

 

Terdapat perbedaan antara Marketing,  Selling dan Brand, seperti dibawah ini :

Sukses-Brand-Differences-Brand-Marketing-Selling

Sukses Brand – Differences Brand Marketing Selling

 

Berikut ini terdapat beberapa konsep Marketing  :

  1. Marketing 1.0 fokus pada Product Centric
  2. Marketing 2.0 fokus pada Customer Centric
  3. Marketing 3.0 fokus pada Human-Centric

 

Era Digital menandai lahirnya konsep Marketing 4.0 dengan landasannya tetap kepada Human Centric, adapun atribut Marketing 4.0 adalah sbb :

  1. Physicality, Seseorang yang memiliki penampilan menarik atau memiliki kemampuan membawa diri dengan baik pasti menarik orang-orang sekitarnya, demikian juga halnya dengan Brand. Daya tarik fisik penting bagi Brand. Hal ini bisa ditampilkan melalui logo, desain aplikasi, kemasan produk, tagline,  tampilan antarmuka di layar gawai, sampai pada tampilan outlet. Ingat, biasanya, orang jatuh cinta itu pertama-tama karena penampilan fisik. Apple dan Google menjadi contoh Brand yang memiliki aspek tersebut secara kuat.
  2. Intellectuality, Intelektualitas terkait dengan pengetahuan yang dimiliki manusia, kemampuan berpikir, dan kemampuan menyampaikan ide-idenya. Intelektualitas ini sangat dekat dengan kemampuan memprediksi masa depan dan berinovasi, demikian juga dengan Brand. Brand yang memiliki intelektualitas yang kuat adalah Brand yang inovatif dan memiliki kemampuan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi pelanggannya.
  3. Sociability, Orang yang memiliki sosiabilitas tinggi, biasanya tampil gaul dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda. Dia memiliki kemampuan komunikasi yang bagus – baik verbal maupun nonverbal, Brand juga dituntut demikian. Brand tidak boleh takut atau minder untuk membangun percakapan dengan pelanggannya. Brand tidak boleh kuper dan harus gaul dengan dunia pelangganya. Brand harus mengedepankan sikap mendengarkan, mampu menjawab pertanyaan konsumen dengan baik dan tepat, serta mampu merespons cepat komplain Brand. Denny’s Dinner, misalnya. Perusahaan makanan ini berhasil menciptakan sosok sosial di media sosial yang ramah, lucu, sekaligus banyak disukai. Brand ini rajin mem-posting konten yang informatif sekaligus lucu dan direspons banyak orang. Denny’s Dinner menampilkan Brand yang lebih manusiawi. Kalau di Indonesia, Anda bisa membayangkan akun Twitter TNI Angkatan Udara yang fenomenal itu. Meski bernaung di bawah nama tentara yang dipersepsi kaku, ternyata akun TNI AU ini bisa tampil horizontal, hangat, lucu, dan tetap berwibawa sehingga disukai banyak orang.
  4. Emotionality, Orang yang mampu mengelola emosinya dengan baik biasanya diterima di banyak kalangan. Ia menjadi sosok yang menyenangkan, demikian juga dengan Brand. Brand pun harus bisa mengekspresikan emosinya seperti halnya manusia. Brand harus bisa memberi inspirasi sekaligus mampu menunjukkan sisi humor. Dove merupakan contoh Brand yang memiliki aspek emosional yang kuat. Dove peduli pada isu kepercayaan diri di kalangan perempuan dengan cara mendorong untuk berani mencintai diri sendiri apa adanya dan mengapresiasi kecantikan alami Brand. Dengan didukung oleh kampanye yang masif, Dove pun berhasil terhubung kuat secara emosional dengan perempuan di seluruh dunia.
  5. Personability, Orang yang memiliki kepribadian kuat pasti menjadi sosok menarik bagi orang-orang di sekitarnya. Orang ini mampu memotivasi diri sendiri, memiliki prinsip, memegang nilai-nilai, dan kepemimpinan, demikian juga dengan Brand. Brand dituntut memiliki kepribadian yang kuat. Patagonia, misalnya, menjadi perusahaan yang mampu menunjukkan diri sebagai Brand yang transparan dan peduli pada lingkungan sosial. Melalui Footprint Chronicles, Patagonia mempersilakan pelanggan untuk melihat latar belakang setiap produk yang mereka beli – termasuk jejak produk tersebut terkait dengan lingkungan sosial. Patagonia ingin tampil dengan jujur dan percaya diri untuk memperlihatkan proses bisnis mereka. Termasuk mengakui bahwa proses bisnisnya masih kurang sempurna.
  6. Morality, Moralitas mengacu pada sikap etik dan integritas seseorang. Orang ini mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk secara moral. Lebih penting dari itu, orang ini berani melakukan sesuatu yang benar. Brand juga harus demikian alias memiliki moralitas kuat dalam memegang nilai-nilai, khususnya dalam bisnis. Moralitas ini harus masuk menjadi bagian dari seluruh keputusan bisnisnya. Ada beberapa perusahaan yang menjadikan nilai-nilai moral ini sebagai bagian utama diferensiasinya.

 

Semakin menampilkan diri sebagai manusia, Brand tersebut akan semakin diterima oleh masyarakat konsumen sekarang ini.

The Relationship Between Brand And Consumers
Sukses Brand Relationship Brand And Consumer

Sukses Brand Relationship Brand And Consumer

Perusahaan Mc.Donald, mengatakan bawah “Our Head of Social Media is the customer“.

 

Lalu bagaimana membangun Brand di Era Digital ?

 

to-be continue ..

 

Tags
About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *